Selasa, 10 November 2009

""Best is not a theological category" (1)

Itu petikan tanggapan Stanley Hauerwas sewaktu dirinya digelari majalah Time sebagai teolog "terbaik" Amerika di tahun 2001. Kutipan yang agak panjangnya berbunyi demikian:

"Best is not a theological category! Faithful or unfaithful are the right categories. The last thing in the world I'd want to be is the best" (dikutip dari sini).

(Terjemahan bebas: "kata terbaik bukanlah kategori teologis! Setia atau tidak setiau, itulah kategori-kategori yang tepat. Dari segala hal di dunia ini, prioritas paling belakangan saya adalah menjadi yang terbaik.")

Betapa tajam! Betapa menohok! Saya rasa, bagi diri saya, dan juga bagi kebanyakan orang Kristen dan gereja, kita dipenuhi dengan aspirasi untuk menjadi yang terbaik. Tentu saja, kita selalu tak melupakan kualifikasi teologis bagi frasa tersebut: kita tentu ingin selalu jadi yang terbaik bagi Allah.

Saya rasa, poin utama yang hendak disampaikan Hauerwas adalah: kita tak dipanggil Tuhan untuk menjadi yang terbaik, tapi untuk menjadi setia.

Mungkin sebagian rekan akan menggugat: "Lho, Allah kita menghendaki yang terbaik, karena Ia juga menyediakan yang terbaik bagi kita! Konsep 'jadi yang terbaik' jelas sangat penting, esensial malah, bagi orang Kristen!"

Sebelum saya mencoba merunut survei textual yang saya lakukan tentang konsep ini. Biarlah saya menyatakan hipotesis bahwa pernyataan Hauerwas itu benar dan setia dengan ajaran Alkitab. Saya hendak menggambarkan tesis ini lewat peristiwa Yesus memberi makan lima ribu orang (Mat. 14:14-21). Di sini Yesus melakukan apa yang dikehendaki Allah, yaitu menyatakan Kerajaan Allah lewat karya belas kasihan-Nya kepada orang banyak. Jika yang dipentingkan Yesus adalah soal melakukan "yang terbaik" multiplikasi dua jenis makanan (lima roti dan dua ikan) jelas bukan yang terbaik. Yesus tak melakukan yang terbaik dari banyak sisi. Entah itu dari sisi gizi (tak ada buah atau sayur yang disajikan), higienitas (mereka makan dengan tangan tanpa alat makan yang bersih dan tepat cuci tangan yang memadai), dan seterusnya. Hal-hal itu dilakukan secara standar-standar saja (bagi zaman tersebut). Yang penting bagi Yesus adalah, itu dilakukan-Nya karena taat kepada program Kerajaan-Nya.

Kesimpulan sementara saya dari nas ini, ketika kita mengaku kita mengupayakan "yang terbaik", mau tidak mau kita menentukan sendiri apa tolok ukur "terbaik" itu. Itu penting memang. Ketika kita dipanggil Allah untuk menyediakan makanan bagi mereka yang membutuhkan, jelas kita mesti menentukan standar gizi dan higienitas dst. yang baik. Itu penting. Tapi itu bukan yang terpenting. Yang terpenting adalah, apakah kita melakukannya karena dan dalam ketaatan kepada Allah. Karena itu, seperti yang dikatakan Hauerwas, "Best is not a theological category". Jangan sampai kita lalai taat kepada Allah karena kita sibuk memperjuangkan hal-hal yang kita anggap sebagai "yang terbaik" bagi Dia.

Karena itu, apakah kita hendak menjadi taat dan setia, ataukah jadi yang terbaik? Apa kata teks-teks Alkitab secara lebih luas tentang hal ini?

(bersambung)